Torehan demi torehan sengaja penulis rangkai, sebagai bukti keberadaanya bahwa ia pernah singgah di bumi.

Friday, January 4, 2019

Beruntung Karena Salah


Oleh, Nurul Hadi
Perbuatan salah itu menjadikan kita beruntung, loh?
Umumnya, orang selalu mengaitkan kesalahan dengan
kelemahan dan dosa. Sehingga, setiap kali ada
pembahasan soal kesalahan acapkali yang disinggung
adalah dampak negatifnya. Kali ini penulis akan
mengemukakan bahwa berbuat salah itu positif. Memang
bisa?
Salah itu niscaya. Kita sering menyaksikan fenomena orang
berbuat salah. Kita pun sering melakukan kesalahan. Dan
tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah
melakukan kesalahan; kecil maupun besar.
Fenomena kesalahan terjadi dalam banyak hal dan dalam
pelbagai dimensi. Kadang kesalahan terjadi dalam proses
belajar mengajar, dalam etika pergaulan, dalam kerja di
perkantoran, dalam keluarga, dunia olahraga, dan lain
sebagainya. Dimensi kesalahan bisa kecil, sedang dan
besar. Dalam dimensi social ada kesalahan yang dapat
dimaafkan dan ada yang tidak termaafkan. Menurut
perspektif agama Islam, dimensi kesalahan tadi (baca: al-
shoghair dan al-kabair) masih dapat diampuni oleh Allah
yang Maha Pengampun, kecuali satu dosa yang tidak dapat
diampuni yaitu kemusyrikan atau penyekutuan terhadap
Allah (QS An-Nisa’: 48).
Lalu kenapa orang berbuat salah? Jawabannya bisa
bermacam-macam: ada orang salah karena tidak tahu. Ada
pula orang yang salah karena lupa. Ada orang salah karena
lalai. Tapi ada juga orang yang sengaja berbuat salah.
Namun demikian, apapun alasan orang berbuat salah,
sejatinya dapat membuat pelakunya beruntung. Ya,
semuanya, apapun itu. Dalam kasus karena ketidaktahuan,
misalnya orang belajar Bahasa Arab, pada saat dia
mencaba berbicara Bahasa Arab mengalami banyak
kesalahan baik secara tata bahasa (baca: kaidah Nahwu
dan Shorf), penggunaan kosakata atau pengucapan bunyi
huruf (pronunciation). Kesalahan itu terjadi karena dia mau
mencoba, dari usaha yang dilakukan itulah muncul
kesalahan, dan dari kesalahan inilah dia belajar dan
mendapatkan ilmu baru. Dari sanalah kemahiran berbicara
Bahasa Arab itu akan terjadi.
Begitu juga dalam bidang yang lain, bisnis, karir, olahraga,
teknologi dan lain-lain. Kesalahan menjadi keharusan
dalam setiap usaha peningkatan dan pengembangan.
Kegagalan Bisnis terjadi pasti karena ada kesalahan dari
beberapa aspeknya. Kalau pelaku bisnis itu dapat
menemukan kesalahannya lalu dia terus berupaya untuk
memperbaiki, maka keberuntungan itu akan datang.
Lalu bagaimana dengan kesalahan yang diperbuat karena
lalai, seperti mahasiswa yang tidak lulus karena kesalahan
dalam mengerjakan soal-soal ujian. Kesalahan ini terjadi
karena kelalaian mahasiswa yang tidak belajar sebelum
mengikuti ujian. Ujungnya adalah gagal. Kendati demikian
kesalahan ini akan mengantarkan keberuntungan kepada
mahasiswa tadi, asalkan dia menyadari letak kesalahannya
itu dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang
sama.
Hal yang sama dapat terjadi kepada orang yang sengaja
berbuat salah. Misalnya orang selingkuh, maksudnya orang
melakukan hubungan gelap dengan kekasih yang tidak sah
pada saat statusnya sebagai pasangan yang sah dengan
orang lain; serong (KBBI:1295). Perbuatan ini tidak dapat
dibenarkan dilihat dari hukum agama, social, adat maupun
negara. Maka orang melakukan perbuatan selingkuh,
hakikatnya telah melakukan kesalahan yang sengaja, sebab
sebetulnya dia sudah tahu kesalahannya itu. Dampaknya
tentu saja tidak sederhana, dapat berujung pada kegagalan
dahsyat. Tetapi dalam kasus ini pun masih bisa
menghantarkan keberuntungan, syaratnya tetap sama dia
harus menyadari bahwa kegagalan itu terjadi karena
kesalahan yang dia perbuat dan terus berupaya melakukan
yang terbaik.
Mari kita lihat sejarah, ada banyak tokoh yang beruntung
setelah mengalami kegagalan karena kesalahan yang
terjadi. Dalam dunia bisnis ada Soichiro Honda yang gagal
bergabung dengan Toyota Motor Corporation tetapi segera
menyadari kesalahannya dengan mengatakan: “Sukses
dapat diraih hanya dengan kesalahan berkali-kali”.
Thomas Edison. Di masa mudanya, seorang guru
mengatakan bahwa ia terlalu bodoh untuk bisa mengerti
banyak hal. Di dunia karir, Edison juga tidak bernasib baik,
ia dipecat dari dua pekerjaan pertamanya karena dianggap
tidak produktif. Bahkan sebagai seorang penemu, ia telah
membuat 1000 percobaan gagal sebelum menemukan bola
lampu. Tentu saja, semua kegagalan tersebut pada
akhirnya menghasilkan sebuah desain bola lampu yang
berfungsi dengan baik.
Nabi Musa diceritakan dalam al-Quran juga mengalami
kesalahan total saat berguru kepada Khidir alaihima al-
salam. Sebagai utusan Allah Musa sempat berpikir ilmunya
sudah cukup, akhirnya Allah perintahkan untuk menemui
Khidir (QS Al-Kahfi). Kesalahan-kesalahan nabi Musa inilah
yang menjadikan keberuntungan selanjutnya. Beliau
menjadi lebih bijaksana dan mengetahui hal-hal yang
sebelumnya tidak pernah beliau ketahui.
Singkat kata, jangan takut salah. Mari berbuat, mari
mencoba, mari berkarya. Karena kesalahan apapun
bentuknya akan membawa kita kepada keberuntungan
berikutnya. Tapi ingat, syaratnya kita harus terus berupaya
untuk tidak jatuh ke dalam kesalahan yang sama. Wallahu
a’lam.


Terimakasih telah sudi mengunjungi blog pena digital ini. Kontribusi anda seperti kritik dan saran penulis harapkan. sebagai pertimbangan untuk membantu membangun blog sederhana ini.
 

 #####
Penulis juga menyediakan beberapa rubrik dan konten menarik lainya, bisa anda kunjungi dengan cara klik salah satu rubrik yang ingin anda telusuri di bawah ini :

Artikel
Opini
Puisi
Tips
Motivasi
Ubudiyah
Kisah Hikmah
Cerpen
Humor
Pantun

Ada beberapa rubrik atau halaman tambahan seperti Kalam Hikmah Dan Sajak Santri

Jika ingin mengenal lebih mendalam tentang penulis silahkan kunjungi
Profil
Biodata Penulis

No comments:

Post a Comment