Torehan demi torehan sengaja penulis rangkai, sebagai bukti keberadaanya bahwa ia pernah singgah di bumi.

Sunday, December 23, 2018

Kalung Kenangan


"Aku mau berikan kenang-kenangan kepada rina, tapi enaknya apa ya ?" Tanya fian pada dirinya yang di gumamkan dalam benaknya. Di seore yang sedikit mendung tampak secercah awan kelabu berlambai-lambai, akan tetapi tak ada tanda akan turun hujan, hanya terlihat mendung.

sosok pemuda melangkah gontay seakan dia sedang memikirkan sesuatu dilihat dari bagaimana ia berjalan, pemuda itu adalah fian yang sedang menuju ke rumah teman karibnya yang bernama arul. fian meneruskan perjalananya untuk menemui temanya itu. dengan niat mengajak membeli sebuah kalung untuk di berikan kepada rina. Karena jarak rumahnya yang tidak jauh perjalan fian tidak memakan waktu lama. Dengan semangat fian berniat mengajak arul demi seorang wanita yang dia cintai bernama rina. Beberapa saat kemudian fian sudah sampai di rumah arul. "Hmmm keliatannya anak itu ada di kamarnya" fianpun  memasuki pintu rumah arul dan langsung menuju kamarnya. Ternyata benar dugaan fian arul benar-benar ada di kamarnya.
"Rul ikut aku yuk"  sapa fian
"Kemana?" Tanya arul sambil menoleh ke arah fian "aku mau beli kalung untuk di kasi ke rina sebagi kenang-kenangan,
Yaaah meski tidak terlalu mewah yg penting aku mau nunjukin bahwa dialah cinta sejatiku"
"Ooooh ok klo gitu". fian tidak perlu membujuk arul agar mau ikut, karena mereka sudah terbiasa pergi bersama. Mereka berdua melangkah keluar rumah, dan arul pergi ke gerasi mengambil sepeda motornya, sedangkan fian menunggu di tepi jalan belakang rumah arul. Sepanjang perjalanan perbincangan mereka berdua tentang sosok wanita yang di cintai fian tak bisa di hindari. "Yan kamu ini ada-ada saja ngasi kalung segala"
"Emang salah kalau aku tunjukin rasa cintaku sama rina dengan sebuah kalung".
"Yaa gak juga sih bagus malahan".
"Gini rul sebenarnya udah dari dulu aku suka sama rina, tapi baru kali ini aku beranai ungkapkan, karena dari dulu aku masih ragu takut cintaku tak terbalas"
Sedikit panjang penjelasan fian tentang sosok wanita yang dia cintai. Lalu arul diam sejenak sambil melajukan sepeda motornya dengan perlahan. "Hmmz kamu itu masih mending bisa ngungkapin perasaannya, ketimbang aku yang pernah jatuh cinta kepada seorang wanita hingga saat ini aku masih ragu ngungkapinya, entah kenapa aku merasa ragu sekali untuk mengatakan semua itu, Karena satu hal yang pernah aku dengar tentang dia, dia sudah punya pacar dan kabar itu sungguh sangat menyakitkan, Tapi apa daya aku kan bukan siapa-siapanya dia, gak berhak aku melarangnya, hingga akhirnya hakikat dari sebuah cinta aku temukan bahwa cinta itu tidak harus memiliki". Arul menjelaskan persoalan cintanya kepada sahabatnya itu hingga tidak terasa mereka berdua sudah sampai di toko aksesoris yang mereka tuju. "Yan kita dah sampai ni"
"Oh ya aku beli dulu ya...... Kamu tunggu disini, kalau mau ikut ayo" fian menawarkan arul untuk ikut kedalam toko itu. "Oh gak usah aku tunggu di luar aja" mendengar jawaban arul seperti itu, fian langsung memasuki toko aksesoris itu, dan dia mencari kalung yang cocok untuk di berikan kepada rina, satu persatu kalung di perhatikan, dia benar-benar hati-hati memilihnya demi membahagiakan rina wanita yang dia cintai. Hingga pada ahirnya diapun menemukan sepasang kalung yang berbentuk love dalam satu kemasan, kalung itu bisa dibagi menjadi dua, ada magnit yang menyatukan kalung yang berbentuk love agar menyatu. Dia pun mengambil kalung itu dan membelinya. tidak lama kemudian fian sudah keluar dari toko aksesoris itu. Menghampiri arul yang menunggunya dari tadi.

"Gimana?" Tanya arul. "ok siap udah aku beli'in tinggal di kasih ke rina besok".
"Ya udah kita langsung pulang atau gimana".
"Pulang ajja deh".
Mereka berdua langsung berkegas pulang meninggalkan toko itu. Sesampainya di rumah fian langsung pamit untuk pulang karena hari sudah menjelang malam. Matahari perlahan redup menyisakan senja kemerahan di ujung barat. Gelap mulai menampakan kegiranganya, pekat malam itu di warnai dengan nyanyian serangga malam Mengiringi sosok fian yang sedang di buai api asmara. Malam itu hati fian berkecamuk memikirkan sosok wanita yang dia cintai, bayangannya semakin menjelajah bagaimana kebahagian esok pagi yang di hadapi untuk memberikan sebuah kalung kepada rina gadis yang dicintai. Hingga tanpa di sadari fian larut dalam tidurnya.

###
Malam semakin larut, hening suasana di malam itu seakan menjadi pertanda bahwa kebahagian fian tak ingin di usik agar secepat mungkin fajar menyapa dari sela jendela kamarnya. Hingga akhirnya gelap malam mulai sirna embun segar menyapa fian yang pulas tidur semalaman. Fian beranjak keluar dari rumahnya untuk meregakan otot-otot karena tidur pulasnya dari tadi malam. "Sungguh pagi yang menyenangkan". Perkataan itu mengawali pagi yang cerah. Hingga sinar matahari mulai meninggi mengingkatkan dia akan janjinya kepada rina untuk memberikan sebuah kalung yang sudah dia belikan, Dia berkegas mandi untuk menemui pujaan hatinya, setelah mandi dia merapikan penampilan sebaik mungkin, karena ingin menemui orang yang dia cintai, habis itu buru-buru berangkat ketempat yang sudah dijanjikan itu. Setelah sampai di tempat yang dia janjikan suasananya hening, pertanda bahwa tidak ada orang di sekitar tempat itu. Keadaan itu di jadikan kesempatan oleh fian jika nanti bertemu dengan rina untuk memberikan kalung yang sudah ada di genggamanya. Tak lama menanti akhirnya datang sosok wanita yang dia tunggu-tunggu. Hati fian berdebar betapa bahagia dan syahdu berkecamuk menjadi satu, Wanita itu mendekat dan memberikan sapaan melalui senyum manisnya yang terpancar di sela dinding bangunan sebuah rumah. di belakang rumah itu tempat fian dan rina bertemu. Setelah wanita itu tepat berada di hadapanya fian berdiri dari tempat duduknya menatap dalam-dalam rina yang berada di hadapanya, tanpa sepatah kata apapun selain saling melemparkan senyuman, Fian mengeluarkan sepasang kalung love yang di bagi menjadi dua dan satunya di berikan kepada rina. Sambil menatap wajah rina yang tersenyum renyah di pagi itu ia mengucapkan. "Hanya ini yang bisa aku berikan". Rina termangun sebentar lalu dengan suara berlirih malu mengucapkan. "tidak apa-apa ini sudah cukup membuatku bahagia". Hingga sampai saat ini kalung itu menjadi pertanyaan besar fian apakah rina masih menyimpanya atau dia hanya menjadikan kalung itu sebagai masa silam yang tak pernah di anggap sebagai peristiwa yang menyimpan kenangan.

Ikuti terus cerita menarik lainya di blog pena digital, terimakasih telah sudi mengunjungi blog ini. Kontribusi anda seperti kritik dan saran penulis harapkan. sebagai pertimbangan untuk membantu membangun blog sederhana ini.



#####
 Penulis juga menyediakan beberapa rubrik dan konten menarik lainya, bisa anda kunjungi dengan cara klik salah satu rubrik yang ingin anda telusuri di bawah ini :

Artikel
Opini
Puisi
Tips
Motivasi
Ubudiyah
Kisah Hikmah
Cerpen
Humor
Pantun


Ada beberapa rubrik atau halaman tambahan seperti Kalam Hikmah Dan Sajak Santri


 jika ingin mengenal lebih mendalam tentang penulis silahkan kunjungi
Profil
Biodata Penulis

No comments:

Post a Comment